Tampilkan postingan dengan label Orang Bingung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Bingung. Tampilkan semua postingan

Anda bingung karena dibid’ahkan?

Tulisan ini bermula karena ramainya perkelahian tulisan-tulisan seperti di sini, kemudian di sini, dan juga di sini. Juga karena di forum e-learningnya mahasiswa UII yang ada di sini, juga lagi ribut-ribut masalah bid’ah, siapa yang pantas disebut sebagai ulama, dan lain sebagainya.

Sebagai orang yang pernah berinteraksi dengan jama’ah salafi ini, ada banyak cerita yang muncul, semuanya berasal dari pengalaman sendiri, melihat, dan menyimpulkannya mencermatinya.

Dulu sekali, kira-kira 12 tahun yang lalu, pertama kali aku mengenal jama’ah salafi ini. Masih ingat saat itu ketika SMA, kita semua yang mengaji di kelompok tarbiyah yang kemudian bertransformasi jadi PK sebelum jadi PKS, dikumpulkan semua oleh kakak-kakak kelas untuk diberikan “pencerahan” wejangan. Intinya, kita semua diminta keluar dari kelompok pengajian “tarbiyah”, karena dianggap sebagai golongan yang sesat dan tempatnya di neraka.

Well, terus terang saat itu sempat juga merasakan shock, bingung, dll. Apanya yang sesat ? Pikir kita saat itu, perasaan yang disampaikan oleh murabbi pembina isinya baik-baik semua. Tapi karena faktor kedekatan dengan kakak kelas yang berinteraksi jauh lebih banyak dengan kita ketimbang pembina yang hanya seminggu sekali, tak pelak, aku pun sempat mengikuti kajian-kajian yang diberikan oleh jama’ah salafi ini.

Terus terang saat itu, sama sekali tidak ada perasaan memusuhi, membenci dan lain sebagainya, yang ada hanya yang penting ngaji. Karena pingin nambah pemahaman tentang Islam. So, saat itu aku ngaji di dua tempat, yang satu di kelompok tarbiyah, yang satu lagi di pengajiannya salafi. Walhasil, sempat pula aku menjadi seorang dengan dalil PokoknyaTM seperti yang disebut di sini sama di sini, sama orang tua kalau berdebat bisa sedikit kasar panas, misal rame masalah tahlilan, masalah kuburan, dll.

Tapi seiring perjalanan masa, lama-kelamaan ada juga perasaan ganjil yang muncul, kok sepertinya aku menjadi orang yang sangat keras sekali kalau ada perbedaan, perjalanan kembali menghantarkan ketika akhirnya bertemu dengan salah seorang ustadz lulusan dari LIPIA Jakarta, yang saat itu mengatakan, “Setelah saya membaca semua kitab fiqh madzhab yang ada, saya semakin memahami bagaimana harus bersikap terhadap perbedaan.”

Puncak ketidakpercayaan kegelisahan terhadap jama’ah ini sebenarnya muncul setelah saat muncul kajian berjudul “Pedang Terhunus Kepada Ja’far Umar Thalib” (hii … judul kajiannya aja mengerikan sekali), yang kemudian dibalas dengan kajian oleh kelompok Ustadz Ja’far yang menyerang jama’af salafi yang lain. Sehingga saat itu di jogja terkenal dua kelompok salafi, yakni Salafi Utara Lor (degolan a.k.a Ust. Ja’far) dan Salafi Selatan Kidul (jamilurrahman a.k.a Ust. Abu Nida’).

Fitnah inilah yang semakin menguatkan ketidakpercayaan tadi, bagaimana mungkin, dua-duanya mengaku mengikuti manhaj salaf, dua-duanya mengaku paling benar dalam mengikuti salafush shalih, yang terjadi justru klaim-mengklaim. Dua-duanya merasa dirinyalah yang berada di jalan paling benar. Inilah yang terjadi, jika klaim kebenaran hanya berlaku bagi kelompoknya sendiri, barangkali mereka lupa perkataan Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa semua perkataan dapat diambil dan ditolak kecuali pemilik kubur ini (sambil menunjuk makam Nabi SAW). Klaim kebenaran dengan semena-mena dinisbatkan kepada satu kelompok saja. Belakangan kelompok Salafi ini pun pecah lagi menjadi tiga, Salafi Ja’fariyyun, Salafi Sururiyin (Abu Nida’ dkk), dan Salafi Garis Keras. Makin rumit kan? semuanya ngaku sebagai thoifah al manshuroh (yang diselamatkan di hari kiamat). Satu hal lagi yang membuatku enggan dan keluar dari kajiannya salafi adalah hobi mereka yang suka menganjing-anjingkan dan “membantai” dengan kata-kata buruk kepada orang lain yang tidak sama pendapatnya dengan mereka.

Meskipun demikian, semuanya masih membawa atribut yang sama, yakni terlalu mudah membid’ahkan orang lain. Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah. Meski kadang dalam membid’ahkan sesuatu banyak sekali inkonsistensi yang muncul. Yang pada akhirnya, ditertawakan tidak dipercayai oleh orang lain. Ada satu nasihat yang pernah diberikan kepada saya tentang bid’ah-bid’ah ini, “Akhi, antum catat saja semua perkara bid’ah yang mereka sebutkan. Tulis baik-baik, taruh dalam dompet, buka 10 tahun lagi.” Eh belum ada 10 tahun, boro-boro, baru satu tahun aja kadang fatwanya sudah berubah lagi.

Berikut daftar-daftar bid’ah dan kesesatan yang dulu pernah dibuat oleh mereka yang kemudian dimentahkan sendiri, terus terang saya tidak ada bukti otentik dan ilmiah sehingga pasti saya mudah diserang arena dianggap menebar fitnah, tapi yang ada adalah ingatan saya selama cukup banyak berinteraksi dengan mereka. Semoga ingatan saya tidaklah salah.

1. Organisasi. Pertama kali salafi muncul, mereka enggan berorganisasi, karena bagi mereka Nabi Muhammad SAW tidak pernah berdakwah dengan cara organisasi. Nggak ada yang namanya ketua, bendahara, ketua bidang ini, ketua bidang itu, dll. Namun sekarang kita lihat, dimana-mana yayasan salafi bergerak pada bidang pendidikan, kesehatan, dll. Kemudian mereka juga terlibat sebagai pengurus takmir masjid. Apa itu namanya bukan organisasi? Masih ingat jelas, dulu mereka paling anti masuk ROHIS (Kerohanian ISLAM), alasannya, Rohis adalah organisasi …
2. Kuliah/Sekolah di Universitas/Sekolah Negri. Jangan harap jika anda adalah salafi generasi awal, anda bisa merampungkan kuliah. Karena kuliah dulu adalah tempat ikhtilath alias tempat campur baur wanita dan laki-laki. Tidak layak untuk diikuti. So, saat itu populer disebut sebagai gerakan Ingkar Kampus. Secaranya pada DO dengan sadar diri. Tapi sekarang? Mana ada kampus negri (at least di Jogja yang saya tahu) yang tidak ada Salafi. Lihat aja di UGM, banyak sekali temen-temen salafi yang masih tekun menyelesaikan pendidikannya di kampus negri, padahal jelas-jelas dia adalah tempat ikhtilath.
3. Foto/Video. Kalau yang satu ini, kelompok Salafi cukup terpecah belah, kalau macam Salafinya ustadz Abu Nida’ kukira sudah cukup kompromistis dengan foto dan video. Karena sudah sering kulihat di friendster, rekan-rekan salafi kidul yang pada narsis majang foto-foto mereka :-D. Tapi, masih ada yang konsisten kok, Salafi garis kerasnya masih ada yang sampai sekarang gak sudi difoto maupun divideo. Dulu sih sempat pendapatnya gini yang gak boleh adalah foto, sementara video boleh. Gubraks, saat itu sama seorang kawan aku tertawa, gimana gak tertawa, apa mereka gak tahu, bahwa video itu adalah kumpulan Foto (still picture) yang diganti-ganti dalam frame (pelajari tuh MPEG theory). Aneh bin ajaib aneh banget deh …
4. masih ada, tapi gak usah ditulis, kepanjangan nanti …

Pernah suatu ketika saya tanya, “Ahlul bid’ah itu adalah sebutan bagi pelaku bid’ah kan?“, “Iya …“, “terus qunut shubuh itu bid’ah bukan?“, jawabnya “Iya ..“, “Terus apa anda berani mengatakan bahwa Imam Syafi’i yang menganjurkan Qunut Shubuh sebagai Ahlul Bid’ah …???? “, “….diam seribu bahasa …“. * aku terus kabur sambil tersenyum meninggalkan dia yang kebingungan *

Bingung pilih 1 diantara 3

Saya … umur 18 tahun. Saya mau cerita ttg problem saya. Saat ini saya sedang menjalin hubungan dgn seseorg sbut saja si “A”. Saya kenal dia dari dunia maya dan hubungan kita sudah 9bulan tapi kita sama sekali blm prnh ktemu. Dia juga ingin menikahi saya. Namun saat ini saya juga mempunyai 2orang teman laki – laki yang ingin menikahi saya juga. Sebut saja si “B” usianya sudah agak tua dan si “C” masih muda sama seperti si “A”,dan menurut saya pekerjaan mereka sama – sama sudah bagus namun ditinjau dari segi perekonomiannya si “B” lebih mapan dari mereka. Menurut saya ketiganya sama – sama bagus. Ow,ya semuanya saya kenal dari dunia seperti itu. Saya bingung sekali untuk memutuskan persoalan besar ini pak. Menurut pak ustadz saya harus pilih yang mana? Mohon dibalaz pak ustadz..

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baru berusia 18, sudah diminati banyak pelamar. Hebat. Bagi-bagi dong kiatnya gimana! Supaya temen2 lain, khususnya yang sudah 20-an ke atas, juga bisa gitu.

Mungkin karena banyaknya pilihan, jadi bingung deh. Eh, apa bener, penyebab bingung itu banyaknya pilihan? Saat pemilu, pilihannya lebih banyak. Tapi nggak bingung tuh!

Menurutku, kebingungan kita itu biasanya disebabkan oleh hal-hal lain yang lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Diantaranya:

* kurangnya ilmu mengenai cara efektif untuk tentukan pilihan
* kurangnya informasi mengenai alternatif-alternatif yang bisa kita pilih
* kurangnya dukungan terhadap pilihan yang hendak kita tentukan
* kurangsiapnya kita untuk menghadapi perubahan yang akan timbul lantaran penentuan pilihan itu
* kurang melibatkan Sang Maha Penentu

Kalau kurang ilmu, belajar dong! Berkonsultasi seperti ini merupakan bagian dari belajar. Tentu masih ada banyak cara lain. Diantaranya baca buku. ‘Kan ada banyak tuh buku tentang cara memilih yang efektif. Diantaranya: Istikharah Cinta: cara cerdas mendapatkan jodoh ideal.

Kalau kurang informasi, gali dong! Penggalian informasi yang paling efektif mengenai seseorang adalah melalui interaksi tatapmuka, terutama dari “bahasa nonverbal”-nya, seperti tatapan mata, bahasa tubuh, perilaku, dsb. (Kalau belum pernah bertatapmuka, pastilah kita kekurangan informasi walau mungkin belum menyadarinya). Kemudian untuk menyempurnakan informasi mengenai seseorang itu, kita perlu cari tahu dari sekurang-kurangnya dua orang “saksi” yang adil. Andai terlambat mengetahui bahwa orang itu ternyata telah beristri, bisa berabe, ‘kan? (Untuk contoh kasus, lihat “Harapan, Jodoh dalam Mimpi, dan Hukum Karma.)

Untuk memperoleh dukungan terhadap pilihan kita, dapatlah kita bermusyawarah dengan orang-orang yang kita harapkan dukungannya, seperti orangtua, saudara, dan sahabat dekat. Dukungan kuat akan kita dapatkan apabila kita memperkenalkan si dia sedini mungkin. (Lihat “Akrabilah keluarga si dia sedini mungkin!“) Untuk itu, semua teman lawan-jenis kita itu perlu kita perkenalkan. Kita tak usah menunggu mereka menjadi pacar kita atau apalagi menunggu saat si dia hendak melamar kita.

Supaya kita siap secara obyektif, kita perlu memenuhi sebagian besar dari “kriteria siap nikah”. (Lihat halaman Kriteria Siap-Nikah.) Ada kalanya, walau secara obyektif kita sudah siap, mental kita belum siap menghadapi perubahan. Nah, supaya mental kita siap, langkah yang paling efektif adalah doa & dzikir. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenang. (Lihat Doa & Zikir Cinta.)

Untuk melibatkan Sang Maha Penentu, lakukanlah istikharah. Dengan istikharah, kita bisa memohon Dia memilihkan yang terbaik bagi kita, memohon Dia mentakdirkan yang sesuai dengan pilihan kita, atau pun memohon Dia memudahkan jalan untuk itu semua. (Lihat Istikharah Cinta: cara cerdas mendapatkan jodoh ideal.)

  ©

TOPO